Sabtu, 05 Oktober 2019

Mitra Dakwah



Oleh:
Muhammad Yusron (B94219087)
Rifqi Abdillah(B94219093)
Nanda Ferdi Maulana (B94219089)
Kelas D3

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kepada Allah SWT. yang telah memberi nikmat dan rahmatnya kepada kita sehingga dapat kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, solawat serta salam tidak lupa kami panjatkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan ilmunya sehingga dapat mengerjakan tugas ini.
Saya berharap buku ini bisa memberikan manfaat kepada para pembaca dengan mengetahui beberapa tipe dari mitra dakwah.

                                                                                                                    Surabaya, 26 Agustus 2019


                                                                                                                                           Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ____________ii
DAFTAR ISI  __________________  1
BAB I PEMBAHASAN ___________ 2
A. Mitra Dakwah Perspektif Teologis 3
B. Mitra Dakwah Perspektif Sosiologi 6
C. Prioritas Mitra Dakwah _________ 11
BAB II PENUTUP _______________ 16
A. Kesimpulan __________________16
DAFTAR PUSTAKA_____________  19












BAB 1
PEMBAHASAN
Mitra atau istilah lainnya al mad’u adalah orang yang menjadi obyek dakwah  . Dalam dakwah pasti ada obyek yang dituju. Mereka adalah seluruh manusia, entah mereka yang sudah memeluk agama islam pun juga yang belum, sebab misi hadirnya islam adalah rahmatan lil alamin.
·  وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
‘’Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Saba’: 28)
Dakwah memiliki banyak arti, yaitu keinginan, seruan, panggilan, mohon pertolongan, sumpah . Kata dakwah berasal dari bahasa Arab yakni دعايدعوا – دعوة (da’a - yad’u - da'watan). Kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da’a. Salah 4satunya dipakai dalam al qur’an surat al qamar ayat 6 ,” Ingatlah hari ketika seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan ”. Dalam ayat tersebut da’a diartikan sebagai “seruan” sesuai konteks kalimatnya.

A. Mitra Dakwah Perspektif Teologis

Ada dua pembahasan teologis terkait dengan mitra dakwah, yaitu sejauh mana dakwah telah menjangkau mereka dan bagaimana klasifikasi keimanan mereka setelah menerima dakwah. Sejauh mana dakwah menjangkau maksudnya adalah sudah atau belum materi materi dakwah tersampaikan kepada mereka. Jika sudah, pertanyaan selanjutnya apakah materi-materi tersebut dipahami atau tidak, diterima atau ditolak, dilaksanakan atau diacuhkan. Sedangkan klasifikasi keimanan adalah penggolongan tingkatan keimanan pada mitra dakwah. Ada orang yang setelah menerima dakwah dia langsung mau berbenah, tipe orang seperti ini lambat laun akan masuk pada golongan orang yang memiliki keimanan yang tebal. Disisi lain ada orang yang setelah menerima dakwah tidak mau berbenah, sehingga mereka tetap pada golongan orang dengan keimanan yang tipis.
Permasalahan yang pernah muncul berkaitan dengan status orang yang sudah atau belum pernah menerima dakwah islam dikaji dalam polemik teologis tentang peranan akal dan wahyu membentuk perbuatan manusia. Golongan mu’tatazilah berpendapat bahwa akal tidak hanya bisa membedakan antara perbuatan baik dan buruk, tetapi juga dapat menjelaskan kewajiban melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Sebaliknya, Asy’ariyah memandang bahwa hanya wahyu yang bisa menilai perbuatan baik dan buruk, sekaligus menegaskan kewajibannya.
Manusia yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. setelah wafatnya Nabi Isa a.s.  –di masa itu vakum dari risalah kenabian -, atau suku-suku terasing yang ada di pelosok pedalaman dan sangat berkemungkinan belum pernah kedatangan seorang pendakwah pun. Bagi golongan mu’tazilah yang mengedepankan akal, orang tersebut berdosa jika melakukan perbuatan burukdan mendapatkan pahala jika melakukan perbuatan baik. Dengan akal ia mengetahui kedua perbuatan tersebut, meskipun ia belum pernah menerima dakwah islam.
Kalau dilihat dari sisi seberapa jauh dakwah telah menjangkau mereka, Bassam al-shabagh (t.t.:86) membagi mitra dakwah menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Kelompok yang pernah menerima dakwah.kelompok ini terdiri dari tiga kelompok juga, yaitu :
a. Menerima dengan sepenuh hati (mukmin);
b. Menolak dakwah (kafir); dan
c. Pura-pura menerima dakwah (munafik).
2. Kelompok yang belum pernah sama sekali menerima dakwah. Kelompok ini terdiri dari dua kelompok, yaitu:
a. Orang-orang yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.
b. Orang-orang yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW.
3. Kelompokyang mengenal islam dari informasi yang salah sekaligus menyesatkan.
Dari sudut kualitas keimanan  mitra dakwah,rosulullah membaginya menjadi empat golongan,dijelaskan dalam sabdanya :
“Hati (manusia) itu terbagi atas empat, yaitu hati yang tidak ternodai seperti lampu yang bersinar, hati yang tertutup karena terikatoleh tutupnya, hati yang terbalik, dan hati yang tertempa. Adapun hati yang tidak ternodai ialah hati orang yang beriman, Lampu hatinya merupakan cahayanya. Adapun hati yang tertutup ialah hati orang yang kafir. Hati yang terbalik ialah hati orang munafik. Ia mengetauhui kebenaran, tetapi ia mengingkarinya. Adapun hati yang tertempa ialah hati yang didalamnyaada keimanan dan kemunafikan. Perumpamaan iman dalam hati laksana sayuran yang ditumbuhkan oleh air yang segar. Adapun kemunafikan dalam hati laksana luka yang diperparah oleh nanah dan darah. Di antara keduanya(iman dan munafik ) yang dominan atas yang lain berarti yang mengalahkannya”(Ahmad bin hambal,t.t.,III, 17).
    Istilah kata mukmin itu sering dipakai oleh orang-orang  dari pada istilah-istilah lainnya yang aslinya artinya sama, seperti orangsaleh, orang muslim, orang yang mendapat petunjuk. Orang mukmin adalah mereka yang membenarkan ajaran islam dengan lisan, menyakini dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatan. Kalau dilihat dari perbandingan antara kebajikan dan dosa nya, mitra dakwah dibagi menjadi tiga golongan , dan sudah dijelaskan dalam al qur’an :
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ 
ṡumma auraṡnal-kitāballażīnaṣṭafainā min 'ibādinā, fa min-hum ẓālimul linafsih, wa min-hum muqtaṣid, wa min-hum sābiqum bil-khairāti bi`iżnillāh, żālika huwal-faḍlul-kabīr
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar”(QS. Faatir[35]ayat 32).
Dari ayat tersebut orang mukmin itu di bagi menjadi tiga tingkatan :
1. Orang mukmin antara dosa dan kebaikannya banyak dosanya ( dholimunlinafsih).
2. Orang mukmin antara dosa dan kebaikannya sama (muktasid).
3. Orang mukmin antara dosa dan kebaikannya banyak kebaikannya(saabiqun bi al khoirot).
                                                                                                                                                                                                                         
Menurut Ibnu Katsir (1997, III: 577), ayat diatas (faatir [35]ayat 32), menerangkan keadaan umat Nabi Muhammad SAW. Mereka terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Umat yang menganiaya diri sendiri (dhalimun linafsih), yakni mereka hanya melaksanakan sebagian kewajiban dan melaksanakan sebagian hal yang diharamkan. Ini adalah tingkatan umat Nabi SAW yang terendah.
2. Tingkatan diatasnya adalah mereka yang melaksanakan kewajiban agama serta meninggalkan yang dilarang agama, namun mereka jarang melakukan hal yang dianjurkan (sunnah) dan kadang-kadang melakukan perkara yang dianjurkan untuk dijauhi (makruh).Ini yang dimaksud mereka yang ada di pertengahan (muqtashid).
3. Tingkatan tertinggi adalah mereka yang lebih dahulu berbuat kebaikan (saabiqun bi al-khoirot). Mereka sangat tekun melakukan kewajiban dan sunah-sunah


B.Mitra Dakwah Menurut Perspektif Sosiologi
Manusia adalah makhluk soial artinya manusia tidak bisa hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam kajian mitra dakwah manusia dapat di lihat dari dua sudut pandang, yaitu: manusia secara individu dan manusia secara berkelompok. Berdasarkan jenis kelamin ada laki-laki dan perempuan dan manusia berkelompok pasti mempunyai perbedaan antar masing-masing kelompok seperti yang dinyatakan dalam surat al-hujuraat (49) 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-hujuraat [49]: 13)
Dari ayat di atas bahwasannya manusia tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Awal dari hubungan tersebut diawali dengan interaksi sosial. Dalam perkembangannya hubungan tersebut dapat berubah menjadi hubungan yang lebih erat salah satunya mitra dakwah.
Abu al-Fath al-Bayanuni (1993: 169) mengatakan, mitra dakwah (al-mad’u) adalah siapa pun yang menjadi sasaran dakwah. Mitra dakwah bukan sebagai objek dakwah ataupun sasaran dakwah,dikarenakan supaya pendakwah dan mitra dakwah saling bertukar pikiran. Apabila mitra dakwah tidak aktif atau tidak berkontibusi maka bisa disebut objek dakwah. Seorang pendakwah bukanlah orang yang paling benar di muka bumi ini sehingga antara pendakwah dan mitra dakwah bisa bertukar pikiran,berbagi pengetahuan tentang pesan dakwah.
Pesan dakwah sendiri merupakan suatu pesan dari pendakwah kepada mitra dakwah dengan tujuan saling berbagi ilmu dan mitra dakwah juga berkontribusi dalam hal tersebut dengan menanggapi pesan yang disampaikan oleh pendakwah,karena di situ statusnya mitra dakwah bukan objek dakwah.
Sedangkan dakwah sendiri adalah upaya untuk mengajak orang kepada kebaikan dan meninggakan perbuatan yang sesat. Dengan dakwah seseorang akan diajak untuk mengamalkan ajarannya supaya menjadi manusia yang lebih unggul dimata Allah SWT dan manusia yang lainnya.
Dakwah bisa dikatakan sebagai rekayasa sosial, karena dapat mempengaruhi masyarakat untuk berubah. Dalam hal ini seorang pendakwah melakukan dakwah dengan berbagai macam ajakan. Dengan ajakan ini sesorang bisa mengetahui dan mengamalkan nilai-nilai ajaran islam yang baik dan apabila mitra dakwah bukan muslim di ajak menjadi muslim. Dan yang sudah mendalami diajak untuk mengamalkan.
Mengamalkan ilmu itu sesuatu yang wajib bagi orang yang mempunyai ilmu, karena seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya itu bagaikan pohon tidak ada buahnya. Ilmu yang bermanfaat itu bisa dikatakan setelah kita mengamalkannya sendiri dan ilmu yang barokah itu bisa kita amalkan sendiri dan diamalkan oleh orang lain.
Sosiologi dakwah adalah ilmu yang membahas tentang uapaya untuk memecahakn masalah-masalah dakwah dengan pendekatan sosiologis
Didalam masyarakat pasti terdapat masalah-masalah yang dapat menimbulkan konflik didalam masyarakat dengan dakwah melalui pendekatan sosiologi bisa menemukan solusi dari permasalah tersebut asalkan masyarakat tersebut menjadi mitra dakwah bukan objek dakwah.
Ada salah satu teori didalam sosiologi dakwah yaitu teori stuktural fungsionalisme. Teori ini lebih condong kepada fakta sosial seperti salah satu tokoh yang yang sangat condong pembahasannya kepada fakta sosial yaitu Emile Durkheim. Struktur terbentuk dari dimulainya terbentuknya masyarakat dari satu orang terbentuk menjadi sebuah masyarakat dengan adanya nilai-nilai masayarakat.
Untuk menjadi masyarakat yang baik terdapat tiga faktor yang telah Allah firmankan dalam kitab sucinya
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhummad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sunngguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal. (QS.Ali Imraan [3]: 159).
Berdasarkan ayat di atas, ada tiga faktor penting menuju terwujudnya masyarakat yang baik, yaitu sebagai berikut.
1. Pemimpin yang lemah lembut dan pemaaaf
Sebuah masyarakat pasti mendambakan seorang pemimpin yang baik yang mencintai kepada masyarakat, bersikap lemah lembut dan memafkan masyarakatnya apabila melakukan kesalahan.
2. Menegaskan asas musyawarah
Musyawarah sangat penting dalam pengambilan keputusan didalam masyarakat, karena dengan musyawarah seseorang diajari menghargai pendapat orang lain. Sehingga keputusannya jelas dan tidak menimbulkan pertentangan.



3. Bertawakkal kepada Allah SWT
Sebelum orang bertawakkal keepada Allah kita harus berusaha dulu, kita tidak boleh memasrahkan hidup kita kepada Allah sepenuhnya. Meskipun sebaik-baik rencana kita tetap harus di sandarakn kepada Allah.
Masyarakat bukanlah sekedar suatu penjumlahan individu semata, melainkan suatu sistem yang dibentuk dari hubungan antar mereka. Masyarakat terbagi dua golongan ada masyarakat organik dan mekanik atau masyarakat pedesaan dan perkotaan dengan ciri-ciri:
1. kehidupan keaagamaan di kota berkurang dari pada pedesaan.
2. orang-orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung orang lain
3.pembagian kerja antara warga kota lebih tegas dan punya batas-batas nyata
4.jalan pikiran rasional pada umunya dianut masyarakat kota
5. perubahan sosial tampak dengan nyata, karena masyarakat kota biasanya terbuka dalam menirima pengaruh luar.
Adapun masyarakat desa bertentangan dengan ciri di atas. Dengan perbedaan di atas kita sebagai pendakwah bisa membedakan cara kita saat berdakwah dikalangan masyarakat desa dan kota dan langkah kita untuk menciptakan msyarkat yang sejahtera harus menyesuaikan dengan pola masyarakat. Fungsinya kita mengkaji mitra dakwah dari prespektif sosiologi itu supaya kita mengetahui pola didalam masyarakat tersebut dan dengan pendekatan-pendekatan supaya tercipta masyarakat yang sejahtera.
C. Prioritas Mitra Dakwah
Prioritas dakwah adalah kegiatan dakwah yang tertuju pada sesuatu yang dianggap utama dalam proses pendakwahannya , sedangkan dakwak pada hakikatnya adalah upaya yang menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang selalu kita serukan, yakni islam.
            1. Mitra dakwah prioritas diri sendiri
mitra dakwah diri sendiri dapat diartikan sebagai intropeksi diri yakni perenungan atas dosa dosa yang pernah kita lakukan dimasa lampau dan berusaha bertaubat agar tidak mengulanginya lagi
Ketika kita melakukan dakwah terhadap diri sendiri kita dapat belajar dari kisah nabi ibrahim yang sadar akan ketidakbenaran bahwah menyebah patung adalah perbuatan yang salah. Meski dia dilahirkan di keluarga pembuat patung berhala akan tetapi nabi Ibrahim terus mencari kebenaran dala dirinya.
Oleh karena itu kita harus dapat memotivasi diri sendiri dalam hal kebaikan seperti yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim as. Apalagi kita adalah umat nabi Muhammad SAW. yang dalam ajaran islam rohmatanlilalamin. 
2. Mitra dakwah prioritas keluarga
Mitra dakwah di lingkungan keluarga harus didahulukan sebelum berdakwah ke masyarakat luas. Hal itutelah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang mengajak istrinya mengikuti agama Allah SWT terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain. Akan tetapi tidak semua anggota keluarga cepat merspon positif ajakan kita sebagaimana Khadijah. Kadang kala perlawanan dakwah justru datang dari keluarga kita sendiri.
Dari cerita diatas kita dapat mengetahui pentingnya berdakwah atau mengajarkan ilmu agama terhadap keluarga kita sendiri, agar kelak keluarga kita tidak terjerumus kedalam hal hal ketidakbenaran. Seperti halnya Rasulullah yang senantiasa selalu mengajarkan ilmu keislaman kepada anak anaknya. Karena berdakwah kepada keluarga merupakan prioritas untuk mendukung semua kegiatan dakwah kita.
Adapun keluarga yang menolak dakwah kita , seperti halnya keluarga nabi nuh istri dan anaknya menolak ajaran yang dibawa nabi Nuh as. Dari cerita nabi nuh tersebut seharusnya dapat mengambil hikmah yaitu rahmad Allah adalah yang terpenting dari usaha dakwah kita. meskipun keluarga seorang nabi-pun jikalau rahamad Allah tidak datang niscaya kemustahilan hidayah baginya.
3. Mitra dakwah prioritas masyarakat
Mitra dakwah di masyarakat adalah kegiatan dakwah dalam lingkup yang luas yaitu terjun langsung ke masyarakat . hal tersebut adalah yang paling berat dibandingkan dakwah terhadap keluarga karena mental dan kepercayaan atas pertolongan Allah harus lah sangat kuat. Biasanya banyak pertentangan yang timbul dalam masyarakat yang diakibatkan oleh perbedaan golongan dan perbedaan pendapat.
Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW seorang pendakwah harus mempunyai wibawa kepada kaumnya dan dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah dia samaikan kepada masyarakat


Adapun pertentangan dakwah dalam masyarakat yakni seperti kaum Qurayish mereka menolak dakwah yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. pertentangan mereka terhadap agama islam sangatlah keras bahkan tidak sedikit kaum muslimin disiksa dan dibunuh karena mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW. tetapi Rasulullah tidak pernah menyerah dalam berdakwah karena inti dari berdakwah adalah kesabaran dan percaya akan pertolongan Allah SWT. Keteladanan beliau sangatlah patut untuk dicontoh dalam berdakwah pada saat ini .
Komunikasi Rasulullah dalam berdakwah
Secara sederhana, komunikasi menurut teori barat dapat dipahami sebagai penyampaian pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) melalui media sehingga menimbulkan feedback (pengaruh/umpan balik).
Dasar komunikasi versi islam berbeda 180 derajat dengan dasar komunikasi versi barat. Teori islam mengajarkan untuk hifdzul lisan (menahan aatau menjaga lisan). Sedangkan teori barat mengajarkan untuk banyak bicara atau menyampaikan pesan.
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan menjaga lisan dalam berkata kata karena lisan lebih tajam dari pisau karena dapat melukai hati , Rasulullah dalam berdakwah sangat menjaga lisannya bahkan abu bakar pernah berkata “tidak ada kata kata paling indah selain dari rasulullah”.
Komunikasi dalam berdakwah juga harus didasari oleh kejujuran dan berpedoman kepada al-qur’an hadist agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penyelewengan ajaran islam.





Ayat al-qur’an yang menjelaskan tentang dakwah
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali imran[3]:104)
Dalam ayat diatas kita dapat menyimpulkan bahwa berdakwah adalah perintah Allah SWT kepada manusia agar menyebar kebaikan dan melarang dalam hal keburukan.

Untuk itulah kita harus senantiasa mengerjakan amal sholeh agar mencerminkan perilaku yang baik dan dapat ditiru sebagai pembelajaran dalam berdakwah. pendakwah diharuskan untuk juga untuk dapat menjaga amanah agar setiap omongan dan prilaku pendakwah dapat dipercaya dan diterima oleh masyarakat hal tersebut sangatlah penting bagi pendakwah dalam proses dakwah.

Dan dari ayat tersebut Allah SWT telah berfirman bahwasannya orang yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar adalah orang orang yang beruntung. Karena mereka telah berjuang di jalan Allah dan mengikuti Rasulnya yaitu berdakwah menyebarkan kebaikan islam.
Dalam berdakwah kita juga harus tau posisi kita sebagai apa dan berdakwah kepada siapa, maksudnya adalah ketika kita berdakwah kepada orang yg lebih tua kita harus tau bahasa yang kita gunakan dalam berdakwah agar dapat diterima dengan mudah dikalangan orang yang lebih tua dari kita. Dakwah ini dinamakan dakwah secara vertikal

Sedangkan dakwah secara horizontal adalah berdakwah kepada orang yang statusnya sama dengan kita, contohnya istri yang dicontohkan nabi Muhammad yang berdakwah ke khadijah istrinya agar senantiasa mendapat dukungan dan support keluarga.

Prinsip-prinsip prioritas mitra dakwah
1. Yaitu berdakwah kepada masyarakat yang belum sama sekali mengenal islam , seperti yang dicontohkan nabi Muhammad yang berdakwah kepada orang kafir quraisy
2. Berdakwah kepada orang tua yang ajalnya dianggap sudah dekat daripada berdakwah kepada orang yang dianggap harapan hidupnya lebih panjang
3. Berdakwah kepada para pemimpin karena dianggap lebih dapat mempengaruhi daripada berdakwah kepada bawahannya. Dan bawahan akan senantiasa mengikuti apa yang diperintahkan pemimpinya
4. Berdakwah kepada orang dewasa yang sudah berkewajiban daripada berdakwah kepada anak anak yang belum mempunyai kewajiban
5. Berdakwah kepada orang yang mau masuk islam atau yang baru masuk islam daripada orang yang sudah lama masuk islam karena orang yang baru masuk islam akan lebih membutuhkan dasar dasar agama islamyang kuat agar mempertebal keimanannya.
Hal ini sangat penting untuk diketahui pendakwah agar pesan dalam dakwahnya mampu diterima dengan baik. Prinsip prioritas diatas dapat dikembangkan lebih luas dengan pedoman umum bahwah mitra dakwah yang lebih strategis harus diprioritaskan. Ukuran penerimaan dakwah dapat menggunakan kategori tahapan iman, dalam tahapan keimanan dapat dilihat dari perubahan keimanannya.


BAB 2
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdakwah merupakan perintah Allah SWT dan kewajiban bagi setiap umat muslim untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh. Mitra dakwah adalah orang yang didakwai dan ikut berkontribusi dalam kegiatan dakwah tersebut agar terciptannya masyarakat yang sejahtera. Tidak hanya itu sebagai pendakwah haruslah percaya diri agar apa yang disampaikan oleh pendakwah bisa diterima dikalangan masyarakat. Dan juga pendakwah harus mengetahui mitranya dari beberapa prespektif agar tidak salah dalam menyampaikan dakwahnya.
Cara kita berdakwah harus menentukan kondisi dari mitra dakwahnya dari segi teologis, sosiologis, dan prioritasnya. Apabila kita berdakwah sesuai dengan aspeknya maka dakwah kita bisa bermanfaat dan dapat difahami oleh mitranya.


DAFTAR PUSTAKA
Mustofa, luthfi. Melenyapkan hantu terorisme dari dakwah kontemporer. Jakarta: Pustaka al-kautsar. 2008.
Aziz, Moh Ali.  Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2017.
Syarif, Faqih. Menjadi Da’i Yang Dicintai, Jakarta: PT gramedia Pustaka Utama. 2011. 
Gunara, Thorik. KOMUNIKASI RASULULLAH, Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009.
Sholeh, Shonhadji. Sosiologi Dakwah. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2011.
Basrowi. pengantar sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia. 2005.
Yani, Ahmad. 170 Materi Dakwah Pilihan. Depok: Al Qalam. 2014